AlasanIndonesia disebut Sebagai Negara Maritim Adalah. Sementara itu, sebutan negara maritim disebut karena Indonesia sebagian besar wilayahnya adalah perairan. Menurut data dari rujukan nasional data kewilayahan Republik Indonesia yang dikerjakan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Pusat Hidrografi dan Oseanografi (Pushidros) TNI Secarakhusus, di Indonesia, menurut UU No. 62 tahun 1958 disebutkan bahwa:"warga negara Republik Indonesia adalah orang yang berdasarkan perundang-undangan dan atau perjanjian atau peraturan yang berlaku sejak proklamasi 17 Agustus 1945 sudah menjadi warga negara Republik Indonesia ". Bisamenjadi berkah karena hal ini menandai bahwa Indonesia memiliki berbagai macam budaya yang dapat saling melengkapi dan menjadikan negara lain 'iri' dengan melimpahnya keberagaman yang kita miliki. Bisa menjadi bencana apabila warganya tidak mau tahu dan membenci satu sama lain, yang dapat menyebabkan perpecahan negara. 2. Keberagamanbudaya di Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi geografis yang ada. Dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 200 juta orang lebih, penduduk Indonesia tersebar di masing-masing pulau dan mempunyai ciri khas budayanya sendiri. Warisan budaya yang berkembang di Indonesia, berasal dari berbagai macam etnis, suku, dan bahasa di Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. terjawab • terverifikasi oleh ahli Keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang maha esa kepada kita, yang memberikan dampak positif dan bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan bangsa, sekaligus tantangan yang dapat mengakibatkan ketidakharmonisan bahkan kehancuran bangsa dan negara Jakarta, – Indonesia merupakan bangsa besar yang terdiri dari beragam suku, agama, bahasa, dan adat istiadat. Data Sensus Badan Pusat Statistik Tahun 2010 mencatat, terdapat jumlah suku di Indonesia. Oleh karena itu, keberagaman yang besar tersebut harus terus dirawat dan dijadikan sebagai potensi dalam mendukung pembangunan nasional. “Tentu keberagaman tersebut harus kita rawat dan dijadikan sebagai potensi kekuatan agar bangsa Indonesia dapat tetap utuh dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia, utamanya dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang,” tutur Wakil Presiden Wapres K. H. Ma’ruf Amin pada acara Perayaan Hari Ulang Tahun ke-14 Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia PSBI, Rakernas PSBI Tahun 2021, serta Launching Kongres PSBI IV dan Pesta Bolon Simbolon Tahun 2022 melalui konferensi video di Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Rabu 07/07/2021. Lebih lanjut Wapres menyampaikan, sebagai salah satu suku dengan jumlah yang cukup besar dan melihat sebaran jumlah anggota PSBI yang lebih dari orang di seluruh dunia, maka PSBI memiliki potensi besar yang harus diberdayakan untuk melestarikan nilai-nilai adat sekaligus upaya penanaman rasa cinta tanah air. Mengingat, kedua nilai tersebut merupakan faktor penting dalam membentuk integritas nasional. “Pelestarian adat istiadat juga harus menjadi bagian dari upaya kita merawat demokrasi dan memupuk nasionalisme pada tingkat akar rumput guna mewujudkan integritas nasional yang makin kokoh dalam bingkai kebhinekaan bangsa. Hal ini sangat penting untuk terus kita wariskan khususnya bagi generasi muda,” tegas Wapres. Pada kesempatan ini Wapres menekankan pentingnya menjaga kesepakatan nasional sebagai dasar kebangsaan dan kenegaraan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pendiri bangsa melalui 4 empat bingkai kerukunan nasional, yaitu; bingkai politis, bingkai yuridis, bingkai teologis, dan bingkai sosiologis. Bingkai politis, menurut Wapres, yaitu kerukunan yang dibangun atas dasar komitmen seluruh bangsa Indonesia dalam implementasi kehidupan masyarakat sesuai dengan kesepakatan nasional, yaitu; Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara bingkai yuridis, merupakan kepatuhan masyarakat terhadap aturan hukum yang ada. “Kepatuhan terhadap aturan yang ada dengan cara menghormati hukum, karena setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum,” urai Wapres. Sedangkan bingkai teologis, lanjutnya, yaitu pemahaman dan pengajaran keagamaan atau keyakinan yang moderat sehingga tidak menimbulkan konflik nasional. “santun, sejuk, dan merangkul, bukan ajaran yang saling curiga dan mengarah pada konflik atau bahkan pada penggunaan kekerasan,” terang Wapres. Yang terakhir, bingkai sosiologis, Wapres menuturkan pentingnya kearifan nilai-nilai budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun menjadi perekat kebersamaan. “nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan secara turun temurun ini, seperti; Dalihan Na Tolu pada masyarakat Batak, Tepo Seliro dan Gotong Royong pada masyarakat Jawa, Pela Gandong pada masyarakat Ambon, Rumah Betang pada masyarakat Dayak, dan kearifan serupa dari berbagai daerah lainnya,” urai Wapres. “Nilai-nilai positif dari berbagai kearifan lokal nusantara, seperti yang terkandung dalam Dalihan Na Tolu ini dan juga pada adat istiadat yang lainnya seperti saya sebutkan di atas, merupakan pondasi serta perekat kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia yang perlu terus kita sosialisasikan, lestarikan, kembangkan, dan berdayakan,” tambahnya. Selama 14 tahun PSBI ini berdiri dengan 150 cabang di seluruh Indonesia, bukanlah hal waktu yang singkat. Wapres berharap bingkai kerukunan yang selama ini dibangun PSBI dapat terus digalakkan. “Generasi muda khususnya dari keluarga Simbolon agar menjadi teladan dan pelopor loyalitas dan nasionalisme untuk Indonesia, bukan hanya untuk kelompok atau golongan tertentu,” harap Wapres. Menutup sambutannya, Wapres berpesan agar PSBI dan seluruh organisasi kemasyarakatan yang berbasis kekerabatan atau kesukuan untuk tidak berorientasi pada kegiatan yang bersifat eksklusif, tetapi lebih berorientasi inklusif. “Semoga PSBI mampu memberi kesejahteraan bagi anggotanya maupun masyarakat Indonesia pada umumnya, serta mampu melestarikan warisan nilai-nilai masyarakat adat Batak dalam kerangka menjaga persatuan nasional,” pesan Wapres. Sebelumnya Ketua Umum PSBI, Effendi Simbolon, melaporkan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-14 PSBI. Selain itu, ia juga menyampaikan dukungan PSBI kepada pemerintah dalam menangani pandemi Corona Virus Disease 2019 Covid-19 beserta dampaknya. “Kami sangat berharap pemerintah tetap kuat dan senantiasa mampu untuk menangani masalah pandemi Covid-19 ini, kami percaya Bapak Wakil Presiden bersama Bapak Presiden Joko Widodo akan dapat mengatasinya dan bersama dengan komponen masyarakat lainnya untuk kita bisa keluar dari masa yang sangat sulit ini,” ungkap Effendi. Hadir secara virtual dalam acara ini para Pengurus Ppusat PSBI, Pengurus Wilayah PSBI, serta Pengurus INA PSBI. Sementara hadir mendampingi Wapres, Kepala Sekretariat Wapres Mohamad Oemar dan Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi. NN/AS, BPMI-Setwapres Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Keberagaman merupakan realitas yang tidak dapat dikesampingkan dalam kehidupan manusia. Keberagaman tidak melulu menyangkut konteks sosial budaya, melainkan juga persoalan agama atau kepercayaan, dan banyak aspek lainnya. Terkait aspek agama, keberagaman tidak sekadar membicarakan mengenai jumlah dan macam-macam agama, seperti agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, maupun Konghucu saja. Keberagaman dalam konteks agama memiliki makna yang luas. Lebih lanjut, sejarah keberagaman dalam konteks agama, dalam hal ini adalah agama Islam sudah ada sejak munculnya aliran-aliran teologi Islam, setelah Rasullulah saw. wafat., seperti munculnya aliran Mu'tazilah, Qadariyah dan Jabariyah, Khawarij, Syiah, Murji'ah, asy'ariyah dan Maturidiyah, serta banyak aliran lainnya dengan pemikiran dan pedoman yang berbeda-beda dalam memahami konsep ketuhanan. Di Indonesia, keberagaman aliran teologi Islam diterima oleh masyarakat, mengingat konsep keberagaman dan/ kemajemukan telah mengakar kuat dan hidup di tengah-tengah masyarakat, walaupun tetap menuai beberapa kontra yang saling menentang. Keberagaman semacam ini tentu bukanlah persoalan yang mudah untuk disikapi, apalagi persoalan yang menyangkut agama. Pasalnya, adanya keberagaman di Indonesia, berpotensi munculnya masalah baru. Hal ini serupa yang dikatakan Abdillah, bahwa kemajemukan masyarakat Indonesia memiliki potensi bagi munculnya konflik atas nama suku, ras, dan agama Abdillah, 2019 52. Konflik-konflik yang timbul dengan mengatasnamakan suku, ras, dan agama akan berakibat fatal dan memecah belah persatuan bangsa Indonesia, bahkan sampai terjadi pertumpahan darah. Jika kita mau menilik lebih jauh mengenai sejarah Indonesia, konflik tersebut sebenarnya sudah pernah terjadi, seperti pada masa pembangunan orde baru, yakni konflik yang terjadi antar golongan yang memiliki perbedaan paham terkait kebijakan rezim Abdurrahman Wahid, tepatnya ketika munculnya kelas-kelas menengah baru yang mendukung maraknya kegiatan keagamaan. Tidak hanya itu, konflik terkait agama ini, juga dapat menimbulkan perang, memunculkan terorisme, dan yang timbul seperti yang telah disinggung sebelumnya, baik sementara maupun berkelanjutan tentu akan membawa dampak yang besar terhadap lini-lini kehidupan. Persatuan masyarakat Indonesia akan tergerus, dan tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan terjadinya perang dingin dalam satu negara. Hal-hal semacam ini tentu memprihatinkan. Untuk menghindari hal-hal negatif semacam ini, dibutuhkan sikap terbuka dan menghargai sebuah perbedaan. Selain itu, mengakui adanya keberagaman dan/ kemajemukan dalam hal sosial, budaya, terutama agama merupakan cara terbaik sebagai upaya menjaga keharmonisan antar masyarakat. Kondisi masyarakat yang beragam menuntut manusia agar dapat hidup dan menjalani kehidupan dengan bijaksana Siti Rohmah, dkk., 2020 128. Dengan kata lain, sebagai orang yang hidup di Indonesia, kita harus senantiasa menerima realitas bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya Jakarta - Kebhinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia adalah sebuah potensi sekaligus tantangan. Dalam Buku Ajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan karya Wahono dan Abdul Atsar, potensi kebhinekaan bangsa Indonesia adalah dapat membuat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Selain itu, kebhinekaan juga berpotensi mengandung kekayaan yang melimpah, baik alam maupun budaya yang menarik minat tantangan kebhinekaan adalah dapat membuat penduduk Indonesia yang berbeda pendapat menjadi di luar kendali. Akibatnya, bisa tumbuh perasaan atau perspektif yang sempit yang mengancam integrasi nasional atau persatuan NasionalIntegrasi nasional sendiri seperti disebutkan dalam e-modul Pendidikan dan Kewarganegaraan kelas X oleh Tim Pengembang Direktorat Kurikulum-Kemdiknas RI, mempunyai pengertian politis dan antropologis berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI.Secara politis, integrasi nasional adalah penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial ke kesatuan wilayah nasional yang membentuk suatu identitas nasional. Secara antropologis, integrasi nasional adalah proses penyesuaian unsur-unsur budaya yang berbeda sehingga mencapai keserasian fungsi dalam kehidupan Pembentuk Integrasi NasionalMasih dari sumber yang sama, berikut ini faktor yang mendorong tercapainya integrasi nasional1. Rasa senasib dan seperjuangan yang didorong faktor sejarah2. Ideologi nasional yang tercermin dalam Garuda Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika3. Tekad dan keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana yang disebutkan dalam Sumpah Pemuda4. Ancaman dari luar yang memicu semangat nasionalismeFaktor Pendukung Integrasi Nasional1. Pemakaian bahasa Indonesia2. Semangat persatuan dan kesatuan dalam bangsa, bahasa, serta tanah air Indonesia3. Memiliki kepribadian dan pandangan hidup kebangsaan yang sama, yakni Pancasila4. Jiwa dan semangat gotong royong, rasa solidaritas, dan toleransi keagamaan yang kuat5. Rasa senasib sepenanggungan karena pernah mengalami penjajahanFaktor yang Menghambat Integrasi Nasional1. Kurangnya rasa menghargai kemajemukan yang bersifat heterogen2. Kurang toleransi antargolongan3. Kesadaran terhadap ancaman luar yang rendah4. Ketidakpuasan atas ketimpangan dan ketidakmerataan hasil potensi dan ancaman kebhinekaan bangsa Indonesia. Pelajari baik-baik ya! Simak Video "Duh, Anggaran Pemilu 2024 Belum Sepenuhnya Disetujui Kemenkeu" [GambasVideo 20detik] nah/twu

menurutmu mengapa keberagaman di indonesia menjadi kekayaan sekaligus tantangan